Tampilkan postingan dengan label SENI BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SENI BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 November 2017

PENGERTIAN SENI UKIR

By Unknown di November 04, 2017 0 komentar

Apa itu seni Ukir?
Kehidupan manusia tidak lepas dari seni, baik disadari maupun tidak misalnya cara berpakaian atau mempercantik diri, kegiatan ini dilakukan untuk mempermudah supaya dapat dinikmati oleh orang lain yang mengamatinya. Seni selalu berada di tengah-tengah lapisan masyarakat tanpa memandang perbedaan status, waktu atau tempat. Dalam pengertian dari kalangan atas atau kalangan bawah, dari zaman primitif hingga zaman modern, seni senantiasa hadir dalam berbagai bentuknya.
Kata ”ukir” dalam bahasa inggris ”carving” yang berarti ukiran. Kata pahatan atau mengukir kayu dalam istilah bahasa Inggris adalah woodcarving. Pada pekerjaan carve, bagian bahan yang tidak diperlukan akan dibuang, seperti halnya kalau kita bekerja dengan batu atau marmer, untuk memperoleh bentuk yang dikehendaki (Sahman, 1993: 79). Tujuan untuk mengurangi atau membuang bagian yang tidak diperlukan yaitu untuk membentuk ornamen sesuai dengan gagasan seniman sehingga menimbulkan bentuk artistik dalam ukiran tersebut.
Ukiran kayu adalah hasil suatu gambaran yang dilaksanakan dengan alat – alat pahat kayu, sehingga permukaan yang asal mulanya rata menjadi tidak rata (Kruwikan dan Buledan) (Syafi’i dan Rohidi, 1987: 6).
Ciri utama ukiran adalah bentuk permukaan yang tadinya rata menjadi tidak rata, setelah mengalami proses pengurangan atau penambahan sesuai dengan bahan yang digunakan sehingga terdapat tonjolan motif yang mempunyai kedalaman bervariasi dan akan menimbulkan nilai artistik bagi yang menikmati. Menurut Sudarmono dan Sukijo (1979 : 1) ukir atau mengukir adalah mengoreskan atau memahat huruf – huruf dan gambar pada kayu, logam atau batu sehingga menghasilkan bentuk timbul dan cekung atau datar sesuai dengan gambar rencana. Sedangkan ukiran kayu ialah bentuk pahatan papan atau kayu dengan teknik pahat yang sifatnya kruwikan dan mementingkan bentuk timbul – timbul (bulat), cekung – cekung atau krawing dan datar.
Seni ukir adalah salah satu jenis dari seni kerajinan. Seni ukir kayu adalah arsitektur memahat kayu yang membentuk bagian – bagian bangunan seperti tiang, rusuk, palang untuk kepentingan konstruksi atau membentuk struktur dasar ornamen pada alas atau mahkota tiang, pada panel – panel pintu, jendela, sekat ruang, dan langit – langit ( Yudoseputro, 1984 : 164).
Menurut Bastomi (1982 : 1) seni ukir merupakan salah satu karya seni yang indah, yang menyenangkan. Menurut kenyataan benda – benda yang berukir pada umumnya adalah benda terap. namun seiring dengan berkembangnya zaman seni kerajinan ukir tidak hanya mementingkan kegunaan fisik saja, melainkan juga menjadi barang pemuas kebutuhan spiritual sebagai benda hias yang bisa dinikmati keindahannya. Seni kerajinan ukir menjadi media mengekspresikan pengalaman estetis dan sebagai alat berekspresi dan berkomunikasi.
Berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian seni ukir adalah salah satu jenis karya seni rupa yang pembentukannya diperoleh melalui teknik goresan, cukilan atau pahatan dengan menggunakan berbagai media, antara lain: batu, logam, dan kayu. Sedangkan yang dimaksud ukiran kayu adalah ukiran yang dibuat dengan media kayu dengan cara memahat berupa ragam hias atau ornamen dengan menggunakan alat yang disebut pahat.
Karya seni ukir merupakan karya kasat mata yang langsung dapat dinikmati oleh semua orang, baik dari segi wujud desainnya maupun teknik yang digunakan. Dilihat dari segi desainnya menunjukkan suatu gambar hiasan yang berulang maupun bersambung satu dengan yang lainnya, sedangkan dilihat dari segi teknik pembuatan hasilnya merupakan bentuk cekung, cembung dan saling berkesinambungan.
Seni ukir dapat dilaksanakan atau dibuat dengan berbagai macam bahan, diantaranya: kayu, buah, tulang, batu, logam, dan lain sebagainya. Pemilihan bahan untuk seni ukir tergantung dari tujuan digunakannya seni ukir itu. Dari berbagai bahan tersebut kayu merupakan bahan yang cukup mudah dalam pengerjaannya, dengan diimbangi penguasaan materi dari alat.
Menurut Bastomi (1982 : 3-4)  ada enam macam jenis seni ukir yang dihasilkan oleh para seniman atau perajin , yaitu :
1.      Jenis Ukiran Cembung
Ukiran cembung ialah suatu bentuk ukiran cembung. Jenis ukiran ini banyak digunakan pada pembuatan relief.
2.      Jenis Ukiran Cekung
Ukiran cekung adalah suatu bentuk ukiran yang mempunyai bentuk cekung.
3.      Jenis Ukiran Susun
Ukiran susun ialah suatu bentuk ukiran yang bersusun – susun, misalnya ukiran daun yang besar di bawah ukiran daun yang sedang dan kecil sehingga terjadi bentuk yang indah.
4.      Jenis Ukiran Garis (cawen)
Ukiran garis bentuk ukiran yang dipahat pada garis – garis gambarnya saja. Jenis ini banyak digunakan pada logam sebagai ukiran guratan (ukiran perak).
5.      Jenis Ukiran Takokan
Ukiran takokan adalah suatu bentuk ukiran yang tidak memakai bingkai, jadi ukiran ini memperlihatkan tepi – tepi batas ukiran. Ukiran ini erat hubungannya dengan ukiran jenis krawangan.
6.      Jenis Ukiran Tembus (krawangan)
Ukiran tembus adalah suatu bentuk ukiran yang tidak memakai dasar, jadi ukiran ini dasarnya tembus (berlubang), sehingga banyak dipakai untuk penyekat ruang (sketsel), kursi, ukir tempel dan sebagainya.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Bastomi (1982 : 3-4) jenis ukiran berdasarkan tinggi rendahnya ukiran yang dihasilkan oleh para seniman atau perajin ada enam macam, yaitu :
1.    Ukir Rendah ( Bas Relief ), disebut ukir rendah karena gambar yang timbul kurang dari separo belah bentuk utuhnya.
2.    Ukir sedang ( Mezzo Relief ), disebut ukir sedang karena gambar yang timbul tepat separo bentuk utuhnya.
3.     Ukir Tinggi ( Haut Relief ), disebut ukir tinggi karena gambar yang timbul lebih dari separo bentuk utuhnya.
4.    Ukir Cekung atau ukir tenggelam ( Encreux Relief ), disebut ukir cekung karena gambarnya tenggelam lebih rendah dari bidang dasarnya.
5.    Ukir Tembus atau ukir krawangan ( Ayour Relief ), disebut demikian karena dasarannya menembus bidang dasar, sehingga dasarannya berupa lubang – lubang atau tembus.
6.    Ukir Tumpang, disebut demikian karena gambarnya tumpang tindih diatas bidang dasar. Ukir tumpang serupa dengan relief patung karena gambarnya utuh seperti patung. Contoh : relief patung terkenal adalah kamadhatu di kaki candi Borobudur.
Kayu sebagai bahan ukiran memegang peranan yang penting dalam pengerjaan suatu ukiran. Untuk mendapatkan jenis kayu supaya dalam ukiran yang dihasilkan sesuai dengan keinginan pengukir, dibutuhkan suatu ketelitian dalam memilihnya. Selain itu, penggunaan kayu yang tidak tepat dengan jenis dan sifatnya akan menyebabkan hasil ukiran tidak memuaskan.
Dari aneka macam kayu yang ada, tidak semua kayu yang berkualitas baik dapat digunakan sebagai bahan ukiran. Kualitas kayu sebagai bahan ukiran ditentukan oleh umur kayu, warna kayu, arah serat, massa jenis, kekuatan mengepir, cacat kayu, dan jenis kayu (Saiman Rais, 1994 : 1).
Motif – motif dalam Seni Ukir
Pada umumnya apabila mendengar istilah kerajinan ukir, maka masyarakat akan mengartikan atau menafsirkan, terbatasi pada barang – barang mebel atau tepatnya meja kursi berukir saja. Dalam dunia seni rupa, ukir – ukiran atau seni ukir merupakan satu bagian yang tidak dapat dipisah pisahkan dari kehidupan masyarakat. Kerajinan ukir sampai sekarang mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan mulai kita kenal sejak agama Hindu dan Budha masuk ke Indonesia.
Dalam seni ukir terdapat istilah  motif, Motif adalah corak suatu benda, dalam kerajinan tekstil motif adalah pengulangan suatu gambaran atau corak pada kain. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, motif dapat diartikan pola atau corak.
Menurut Syafi’i dan Rohidi (1987: 5) motif adalah pokok pikiran dan bentuk dasar dalam perwujudan ornamen atau ragam hias. Sedangkan menurut Gustami (1987: 7) motif merupakan sebagai pangkal atau tema dari sebuah kesenian. Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa motif adalah awal dari suatu pola dalam ragam hias tertentu untuk menambah keindahan baik untuk hiasan maupun terapan. Motif dalam tulisan ini adalah menggambarkan corak, bentuk dari suatu benda.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa motif seni ukir adalah corak atau bentuk dasar dari suatu pola dalam kerajinan ukir kayu untuk menambah keindahan baik untuk hiasan maupun terapan.

SEJARAH SENI RUPA

By Unknown di November 04, 2017 0 komentar


1.  Pengertian Seni Rupa

Menurut Koentjaraningrat, seni adalah suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai, nilai, norma-norma, dan peraturan dimana kompleks aktivitas dan tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat dan biasanya berwujud benda-benda hasil manusia. Sedangkan pengertian rupa adalah bentuk atau bidang. Jadi, seni rupa memiliki arti suatu seni yang diekspresikan dalam bentuk atau pada bidang tertentu. Sedangkan jenis seni bermacam-macam. Ada seni musik, ada seni tari, ada seni teater, dan tentu saja seni rupa.
Dalam bahasa Inggris, seni rupa disebut visual arts yang berarti “seni yang terlihat”. Walaupun semua jenis seni sesungguhnya dapat dilihat secara visual (misalnya, seni tari juga dapat terlihat oleh mata), tetapi arti kata visual arts tetap merujuk pada seni yang memiliki bentuk atau rupa.
Jadi, Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni yang dapat dilihat oleh mata dan dirasakan oleh rabaan. Seni rupa merupakan hasil olahan titik, garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika. Contoh seni rupa adalah keramik, lukisan, gambar, patung, desain grafis, ukiran, fotografi, video, arsitektur, dll. Seni rupa terbagi menjadi beberapa kategori yaitu seni rupa murni, seni rupa terapan, seni kriya, dan seni desain.




2.  Sejarah Seni Rupa

Sejarah seni rupa memang sangat berkaitan erat dengan perkembangan peradaban manusia. Karena antara seni dan peradaban saling memberi dan menerima pengaruh. Seni rupa juga dapat dikatakan sebagai bagian budaya yang tua. Dalam batas-batas tertentu, seni rupa telah ada sejak manusia mengenal peradaban. Perkembangan seni rupa dapat dirunut sejak zaman purbakala hingga era modern.
Seni rupa sejak ada sejak zaman prasejarah. Hal ini terbukti dengan ditemukannya berbagai lukisan purbakala pada dinding atau langit gua yang dulu pernah ditinggali manusia pada zaman prasejarah. Gua tersebut terdapat di Perancis Selatan dan Spanyol Utara. Di Indonesia juga ditemukan gua seperti itu contohnya di daerah Leang-Leang. Mereka membuat gambar tersebut dengan cara menggores dinding gua dengan menggunakan batu tajam. Kemudian goresan tersebut diberi warna dengan menggunakan batu dangklik dan diberi perekat berupa lemak hewan.
Bangsa-bangsa timur seperti India, Mesir, Persia, Babilonia, Romawi, Yunani, dll merupakan bangsa dengan peradaban yang sudah sangat maju pada zamannya. Perkembangan seni rupa juga sangat pesat di jaman tersebut. Bukti-bukti peninggalan seni rupanya kebanyakan ditemukan dalam bentuk arsitektur (bangunan). Contohnya adalah piramida, sphinx, makam para bangsawan, patung, kuil, dll. Selain itu, ditemukan juga relief, keramik, perhiasan, dan bahkan lukisan di peradaban bangsa Yunani dan Romawi kuno. Karya bangsa Romawi kebanyakan ditemukan di rumah-rumah bangsawan di kota Pompei.
Seni bangunan India yang terkenal adalah Stamba (tugu Asoka), stupa, kuil Budha. Seni patung di India banyak dipengaruhi oleh kesenian Yunani-Romawi, walaupun kebanyakan patungnya berupa dewa-dewa Hindu dan patung Budha. Karena sebelumnya India belum mengenal patung.
Pada abad pertengahan, kebanyakan seni rupa dipengaruhi oleh agama Nasrani (Kristen). Hal ini dilihat pada arsitektur gereja-gereja yang sangat artistik. Selanjutnya, perkembangan seni rupa juga dipengaruhi oleh berbagai penemuan teknologi. Salah satu seniman yang terkenal pada jaman ini adalah Leonardo da Vinci. Lukisan menjadi salah satu karya seni rupa pada masa itu yang paling bernilai hingga kini.
Kemudian setelah ditemukannya komputer pada akhir abad ke-20, banyak muncul jenis kesenian yang baru atau berkembang pesat dari sebelumnya. Contohnya seni grafis, seni fotografi, seni perfilman, dll. Pada masa kini, kita hampir bisa membuat karya seni rupa dengan kreativitas yang tiada batas dengan adanya penemuan komputer ini.

3.  Cabang-Cabang Seni Rupa
Seni rupa terbagi menjadi beberapa cabang yaitu seni rupa murni, seni rupa terapan, seni desain, dan seni kriya.
1.             Seni Rupa Murni
Seperti yang telah dijelaskan di atas, seni rupa murni cenderung mengutamakan nilai estetikanya. Akan tetapi, pada dasarnya seni rupa murni juga memiliki kegunaan dari segi hiburan yang mengutamakan keindahan. Berikut beberapa contoh seni rupa murni.
a)             Lukisan
Lukisan merupakan seni rupa murni dua dimensi yang dituangkan dalam media lukis (kanvas, kertas, dls) dengan menggunakan alat lukis seperti cat, pensil, dan lain sebagainya. Lukisan merupakan salah satu karya seni rupa yang memiliki nilai jual tinggi karena nilai estetikanya. Tidak jarang kolektor lukisan rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit hanya untuk memiliki sebuah lukisan yang menarik perhatiannya.


b)            Patung

Merupakan salah satu seni rupa murni tiga dimensi yang dibuat dengan teknik tertentu bergantung pada alat dan media yang digunakan. Ummunya patung dibuat dengan cara membentuk suatu objek dari bahan seperti batu alam, tanah, logam, dan lain sebagainya.

            Karya seni patung merupakan salah satu karya seni yang banyak ditemukan di muka bumi ini. Banyaknya peninggalan-peninggalan bersejarah yang berbentuk patung menunjukkan bahwa seni patung telah ada sejak dulu dan merupakan sarana bagi seniman untuk mengekspresikan diri atau dengan tujuan tertentu.


c)             Grafis
Konsep Grafis tidk jauh berbeda dengan lukisan. Merupakan seni rupa dua dimensi yang menggunakan teknik cetak baik konvensional maupun modern dengan memanfaatkan teknologi canggih. Desain grafis dapat berupa gambar, tulisan, atau gabungan keduanya.


2. Seni Rupa Terapan


Seni rupa terapan adalah seni rupa yang diciptakan untuk dinikmati nilai estetikanya sekaligus dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Umumnya seni rupa terapan digunakan sebagai alat-alat upacara atau sebagai pemenuh kebutuhan sehari-hari. Contoh seni rupa terapan adalah ukiran, patung, batik, dll.

3. Seni Desain


Seni desain adalah seni tata letak atau perancangan. Desain merupakan awal dari suatu produk yang sudah jadi. Namun, pengertian seni desain sekarang lebih sering digunakan untuk menunjukkan proses perancangan karya-karya seni rupa terapan.

4. Seni Kriya



Seni kriya adalah cabang seni yang menekankan pada keterampilan tangan yang tinggi dalam proses pengerjaannya. Seni kriya berasal dari kata “Kr” (bhs Sanskerta) yang berarti ‘mengerjakan’, dari akar kata tersebut kemudian menjadi karya, kriya dan kerja. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau obyek yang bernilai seni. Contoh seni kriya adalah kriya tekstil (tenunan), kriya kayu (ukiran), dan kriya keramik (gerabah, piring).

4.Jenis-Jenis Seni Rupa
Seni rupa terdiri dari beberaa jenis. Ada seni rupa tradisional, seni rupa modern, dan seni rupa kontemporer.

1.             Seni Rupa Tradisional


Seni rupa tradisional adalah seni rupa yang menjaga bagian dari tradisi luhur masyarakat. Seni rupa tradisional sudah ada sejak turun-temurun dan sudah menjadi tradisi di masyarakat. Ciri khas suatu suku atau bangsa bisa dilihat dari seni rupa tradisionalnya.

2.             Seni Rupa Modern



Seni rupa modern adalah seni rupa yang tidak dibatasi oleh suku atau budaya setempat. Seni rupa modern bersifat universal dan tetap berdasarkan filosofi seni rupa, namun jangkauan penjabaran visualisasinya tidak terbatas.

3. Seni Rupa Kontemporer




Seni rupa kontemporer adalah salah satu seni yang terpengaruh dampak modernisasi. Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini. Jadi seni kontemporer adalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui. Misalnya lukisan yang tidak lagi terikat pada Rennaissance. Begitu pula dengan tarian, lebih kreatif dan modern.

 

4.Kaligrafi


Seni yang satu ini merupakan seni menulis indah di media kertas, kayu, batu dan lain sebagainya. Hasil karya seni rupa yang satu ini biasanya lebih cenderung menggunakan tulisan arab sebagai media eksplorasi, namun tak jarang juga yang menggunakan tulisan latin sebagai media eksplorasi yang sering disebut dengan graffiti.


Jika ditinjau dari beberapa ulasan di atas bisa kita simpulkan ahwasanya seni rupa itu ada berbagai macam, tergantung dari sudut pandang yang kita gunakan. Jika kita meninjau berdasarkan fungsinya, seni rupa ada dua macam yaitu seni rupa murni dan terapan, sedangkan jika berdasarkan bentuk dan wujudnya seni rupa itu bisa berupa dua dimensi atau tiga dimensi. Selain itu, seni rupa juga sudah ada sejak zaman prasejarah dulu, berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan baik itu berupa benda kerajinan maupun lukisan yang banyak ditemui didinding gua.


5.Fungsi Seni Rupa

1)   Fungsi individu
a.             Memenuhi kebutuhan emosional
Salah satu fungsi seni rupa bagi perorangan adalah memenuhi kebutuhan emosional. Seni rupa memberikan kepuasan tersendiri bagi penciptanya ataupun bagi penikmatnya. Seseorang yang merasa sedih mungkin mendapat penghiburan dengan menikmati keindahan lukisan yang membangkitkan kenangannya akan suatu hal yang indah. Menghadiri suatu pameran seni rupa juga dapat menjadi alternatif untuk memulihkan suasana hati atau fikiran yang lelah dengan rutinitas sehari-hari, terlebih jika kita adalah pecinta seni rupa.

b.             Memenuhi kebutuhan fisik
Seni rupa terapan yang digunakan dalam kehidupan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan fisik. Karena ditujukan untuk peralatn hidup, maka kenyamanan sangat dibutuhkan. Adanya seni rupa terapan yang tak hanya memperhatikan fungsi tetapi juga nilai estetika menjadi keunggulan tersendiri yang dapat menimbulkan kenyamanan sebagai salah satu pilar penting pemenuhan kebutuhan fisik. Desain busana dan aksesoris yang menarik memberikan kenyamanan dan nilai guna yang diselaraskan guna pemenuhan kebutuhan fisik individu.
2)   Fungsi sosial
c.             Rekreasi
Rekreasi atau hiburan merupakan salah satu fungsi seni yang paling dapat dirasakan. Keindahan dan kenyamanan suatu karya seni rupa menjadi daya tarik tersendiri yang mampu menghibur banyak orang dari berbagai kalangan. Sama halnya seperti keindahan musik yang yang mampu membangkikan keceriaan, seni rupa juga mampu membantu manusia untuk menyegarkan diri setelah menjalani rutinitas yang melelahkan.
d.             Komunikasi
Seiring dengan berkembangnya teknologi dan media sosial, karya seni rupa juga semakin efektif dalam menyampaikan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Lihatlah bagaimana seorang pelukis yang berada di Eropa menyampaikan ide-ide dan nilai budayanya melalui sebuah lukisan yang kemudian dapat dilihat oleh banyak orang di seluruh dunia melalui media sosial dimana pelukis tersebut membagikan karyanya. Banyak orang yang memiliki kesamaan visi kemudian berkomunikasi melewati karya mereka dan saling memberi apresiasi.
e.             Pendidikan
Bagaimana suatu karya seni rupa menjadi pendidikan bagi penikmatnya? Ya, hal itu karena setiap karya seni rupa memiliki pesan dan nilai tersendiri. Banyak hal yang kita peroleh ketika menikmati suatu kaya seni rupa. Banyak desain bangunan terkenal yang tercipta karena disainernya belajar banyak hal dari seni arsitektur bangunan terdahulu yang berkesan baginya. Begitupula halnya desain busana yang terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak desainer yang belajar dai karya seni rupa yang sudah ada dan mengembangkannya.

PENGERTIAN SENI RUPA MURNI DAN SENI LUKIS

By Unknown di November 04, 2017 0 komentar

1.      Pengertian Seni Rupa
Seni Rupa adalah sebuah konsep atau nama untuk salah satu cabang seni yang bentuknya terdiri atas unsur-unsur rupa yaitu: garis, bidang, bentuk, tekstur, ruang dan warna. Unsur-unsur rupa tersebut tersusun menjadi satu dalam sebuah pola tertentu.Bentuk karya seni rupa merupakan keseluruhan unsur-unsur rupa yang tersusun dalam sebuah struktur atau komposisi yang bermakna. Unsur-unsur rupa tersebut bukan sekedar kumpulan atau akumulasi bagian-bagian yang tidak bermakna, akan tetapi dibuat sesuai dengan prinsip tertentu. Makna bentuk karya seni rupa tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya unsur-unsur yang membentuknya, tetapi dari sifat struktur itu sendiri. Dengan kata lain kualitas keseluruhan sebuah karya seni lebih penting dari jumlah bagian-bagiannya.

2.      Macam-macam Seni Rupa
Gambar seni rupa murni
Beberapa macam seni rupa sebagai berikut :
1)      Seni Rupa Murni
a.       Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar. Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan.
b.      Seni grafis adalah cabang seni rupa yang proses pembuatan karyanya menggunakan teknik cetak, biasanya di atas kertas. Kecuali pada teknik Monotype, prosesnya mampu menciptakan salinan karya yang sama dalam jumlah banyak, ini yang disebut dengan proses cetak. Tiap salinan karya dikenal sebagai “impression”. Lukisan atau drawing, di sisi lain, menciptakan karya seni orisinil yang unik. Cetakan diciptakan dari permukaan sebuah bahan, secara teknis disebut dengan matrix. Matrix yang umum digunakan adalah: plat logam, biasanya tembaga atau seng untuk engraving atau etsa; batu digunakan untuk litografi; papan kayu untuk woodcut/cukil kayu. Masih banyak lagi bahan lain yang digunakan dalam karya seni ini. Tiap-tiap hasil cetakan biasanya dianggap sebagai karya seni orisinil, bukan sebuah salinan. Karya-karya yang dicetak dari sebuah plat menciptakan sebuah edisi, di masa seni rupa modern masing-masing karya ditandatangani dan diberi nomor untuk menandai bahwa karya tersebut adalah edisi terbatas.
c.       Seni patung adalah cabang seni rupa yang hasil karyanya berwujud tiga dimensi. Biasanya diciptakan dengan cara memahat, modeling (misalnya dengan bahan tanah liat) atau kasting (dengan cetakan).
d.      Seni instalasi (pemasangan) adalah seni yang memasang, menyatukan, dan mengkontruksi sejumlah benda yang dianggap bisa merujuk pada suatu konteks kesadaran makna tertentu. Biasanya makna dalam persoalan-persoalan sosial-politik dan hal lain yang bersifat kontemporer diangkat dalam konsep seni instalasi ini. Seni instalasi dalam konteks visual merupakan perupaan yang menyajikan visual tiga dimensional yang memperhitungkan elemen-elemen ruang, waktu, suara, cahaya, gerak dan interaksispektator (pengunjung pameran) sebagai konsepsi akhir dari olah rupa.
e.       Seni pertunjukan (Performance art) adalah karya seni yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. performance biasanya melibatkan empat unsur: waktu, ruang, tubuh si seniman dan hubungan seniman dengan penonton. Meskipun seni performance bisa juga dikatakan termasuk di dalamnya kegiatan-kegiatan seni mainstream seperti teater, tari, musik dan sirkus, tapi biasanya kegiatan-kegiatan seni tersebut pada umumnya lebih dikenal dengan istilah 'seni pertunjukan' (performing arts). Seni performance adalah istilah yang biasanya mengacu pada seni konseptual atau avant garde yang tumbuh dari seni rupa dan kini mulai beralih ke arah seni kontemporer.
f.       Seni Keramik adalah cabang seni rupa yang mengolah material keramik untuk membuat karya seni dari yang bersifat tradisional sampai kontemporer. Selain itu dibedakan pula kegiatan kriya keramik berdasarkan prinsip fungsionalitas dan produksinya. Venus of Dolni Vestonice adalah karya keramik tertua yang pernah ditemukan.
g.      Seni film
h.      Seni koreografi
i.        Seni fotografi

2)      Desain
a.       Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut
b.      Disain grafis adalah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin. Dalam disain grafis, teks juga dianggap gambar karena merupakan hasil abstraksi simbol-simbol yang bisa dibunyikan. disain grafis diterapkan dalam disain komunikasi dan fine art. Seperti jenis disain lainnya, disain grafis dapat merujuk kepada proses pembuatan, metoda merancang, produk yang dihasilkan (rancangan), atau pun disiplin ilmu yang digunakan (disain). Seni disain grafis mencakup kemampuan kognitif dan keterampilan visual, termasuk di dalamnya tipografi, ilustrasi, fotografi, pengolahan gambar, dan tata letak
c.       Desain industri (Industrial design) adalah seni terapan di mana estetika dan usability(kemudahan dalam menggunakan suatu barang) suatu barang disempurnakan. Desain industri menghasilkan kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna atau garis dan warna atau gabungannya, yang berbentuk 3 atau 2 dimensi, yang memberi kesan estetis, dapat dipakai untuk menghasilkan produk, barang, komoditas industri atau kerajinan tangan. Sebuah karya desain dianggap sebagai kekayaan intelektual karena merupakan hasil buah pikiran dan kreatifitas dari pendesainnya, sehingga dilindungi hak ciptanya oleh pemerintah melalui Undang-Undang No. 31 tahun 2000 tentang Desain Industri. Kriteria desain industri adalah baru dan tidak melanggar agama, peraturan perundangan, susila, dan ketertiban umum. Jangka waktu perlindungan untuk desain industri adalah 10 tahun.
d.      Desain Interior.
e.       Desain Busana.
3)      Kriya
a.       Kriya tekstil
b.      Kriya kayu
c.       Kriya keramik
d.      Kriya rotan

3.      Sejarah Seni Rupa Pada Zaman Klasik
Perkembangan seni rupa zaman klasik didasari atas berkembangnya kebutuhan dan kepercayaan. Kepercayaan yang hidup pada zaman prasejarah berkembang pesat pada zaman klasik. Kepercayaan  awal  pemujaan  terhadap  arwah  (roh  nenek  moyang)  berkembang menjadi kepercayaan kepada para dewa. Kebutuhan sarana  ibadah baik  bentuk  dewa maupun tempat  peribadatan  menjadi alasan mereka menciptakan karya seni rupa, berupa kuil, candi, vihara, dan patung-patung perwujudan dari dewa dan dewi, serta piramid. Didorong oleh perkembangan ilmu dan teknologi, serta ditemukannya bahan logam, menjadikan karya-karya mereka mencapai tahap perkembangan yang dapat mencapai puncak (klasik).
Seni rupa pada zaman klasik ini di seluruh dunia hampir mengalaminya, di Yunani, Romawi, Mesir, India, Mesopotamia, dan Indonesia. Perbedaanya hanya terletak pada waktu. Bisa diambil Seni Klasik di Mesir dengan didasari pada pemujaan terhadap dewa.
Fir’aun sebagai  raja  yang  dipercaya  turunan  dewa,  maka setelah  meninggal  dipatungkan  dalam wujud dewa. Pemujaan terhadap Fir'aun setelah mati bukan sekedar dipatungkan, tetapi juga dibuat  mummi  (mayat  yang  diawetkan).  Mummi  ini  didasari  atas  kepercayaan  bahwa manusia setelah mati rohnya akan bersemayam  melindungi manusia yang  hidup asalkan jasadnya diawetkan. Kebutuhan kepercayaan itulah maka dibuat mummi. Karya seni bentuk lain adalah piramid. Piramid adalah tempat makam Fir'aun. Piramid ini merupakan karya klasik dan monumental.
Pada bagian tempat menyimpan mummi, di dalam piramid dibuat kamar (cela): Pada Dinding cela ini digambarkan si mati ketika semasa hidupnya dan kendaraan kapal sebagai kendaran roh si mati menuju nirwana. Karya seni rupa yang lahir adalah relief. Di depan piramid dibangun pintu gerbag (pylon) yang diapit oleh dua tugu (obelix), yang terbuat dari batu utuh dengan ketinggian puluhan meter. Dibelakangnya dibuat patung yang berbadan singa berkepala manusia (sphink), yang mengandung makna simbolis.
Piramid,  patung,  tugu,  dan  sphink,  serta  mummi  adalah  karya  seni  rupa  yang mencapai tahap klasik (puncak) karya seni rupa mesir. Itu semua didasari oleh kebutuhan kepercayaan. Contoh lain seni rupa klasik yang lahir di Yunani dan Romawi. Karya seni rupa mereka mencapai klasik sebab menciptakan karya-karya yang monumental seperti kuil, patung dewa dewi, dan tempat olahraga olimpiade. Karya-karya  mereka  pun  lahir  didasari oleh  kebutuhan  kepercayaan  kepada  para dewa. Dewa-dewa diciptakan dalam bentuk patung manusia yang sempurna dalam bentuk fisik (idial). Lahirlah patung dewa Zeus, Dewa Appolo, Dewa Olahraga, dan dewa - dewa lainnya dalam bentuk patung yang menggunakan bahan batu, logam dan emas. Ketelitian, keuletan, kesungguhan dalam membuat patung sangat telliti dan tinggi, sehingga melahirkan karya-karya patung yang sempurna (klasik).
Selain patung seni rupa yang didasari kepercayaan terhadap dewa ini berupa sarana ibadah atau kuil. Kuil-kuil ini mencapai tahap klasik sebab didukung oleh tiang-tiang yang indah dan dihiasi dengan patung-patung dewa dan relief yang agung. Karena teknik yang tinggi dan kecermatan yang luar biasa, maka terciptalah kuil-kuil yang monumental (klasik). Seni klasik yang lahir di Indonesia, didasari oleh kepercayaan agama Hindu dan Budha. Ajaran agama Hindu yang percaya kepada para Dewa melahirkan perwujudan dewa-dewa dalam bentuk patung, dewa syiwa, dan brahma. Raja dianggap sebagai turunan dewa, maka raja  biasanya  dipatungkan  dalam  wujud  dewa.  Tempat  pemakaman  para  raja  biasanya dibuatkan bangunan candi asal kata dari Candika (Dewa Kematian). Dinding bangunan candi dihias dengan relief yang berisi ajaran agama. Patung, relief dan candi yang dibangun untuk kebutuhan kepercayaan di Indonesia mencapai tahap klasik dan monumental seperti Candi Prambanan, Borobudur dan Penataran.

4.      Pengertian Seni Lukis


Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar. Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan.

5.      Sejarah Umum Seni Lukis
Ø  Zaman prasejarah
Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan.Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arangkapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan dedaunan atau batu mineral berwarna. Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.
Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar seperti dindinglantai,kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern di Indonesia, sifat ini disebut juga dengandwi-matra (dua dimensi, dimensi datar).
Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan objek-objek alam lain seperti pohonbukitgunungsungai, dan lautBentuk dari objek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya.Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap objeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsitanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam objek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya.
Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli.Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.
Ø  Seni Lukis Zaman Klasik
Seni lukis zaman klasik kebanyakan dimaksudkan untuk tujuan:
ü  Mistisme (sebagai akibat belum berkembangnya agama).
ü  Propaganda (sebagai contoh grafiti di reruntuhan kota Pompeii).
Di zaman ini lukisan dimaksudkan untuk meniru semirip mungkin bentuk-bentuk yang ada di alam.Hal ini sebagai akibat berkembangnya ilmu pengetahuan dan dimulainya kesadaran bahwa seni lukis mampu berkomunikasi lebih baik daripada kata-kata dalam banyak hal.
Ø  Seni Lukis Zaman Pertengahan
Sebagai akibat terlalu kuatnya pengaruh agama di zaman pertengahan, seni lukis mengalami penjauhan dari ilmu pengetahuan.Ilmu pengetahuan dianggap sebagai sihir yang bisa menjauhkan manusia dari pengabdian kepada Tuhan. Akibatnya, seni lukis pun tidak lagi bisa sejalan denganrealitas.
Kebanyakan lukisan di zaman ini lebih berupa simbolisme, bukan realisme. Sehingga sulit sekali untuk menemukan lukisan yang bisa dikategorikan "bagus". Lukisan pada masa ini digunakan untuk alat propaganda dan religi.Beberapa agama yang melarang penggambaran hewan dan manusia mendorong perkembangan abstrakisme (pemisahan unsur bentuk yang "benar" dari benda).
Ø  Seni lukis zaman Renaissance
Berawal dari kota Firenze. Setelah kekalahan dari Turki, banyak sekali ilmuwan dan budayawan (termasuk pelukis) yang menyingkir dari Bizantium menuju daerah semenanjung Italiasekarang. Dukungan dari keluarga deMedici yang menguasai kota Firenze terhadap ilmu pengetahuan modern dan seni membuat sinergi keduanya menghasilkan banyak sumbangan terhadap kebudayaan baru Eropa. Seni rupa menemukan jiwa barunya dalam kelahiran kembali seni zaman klasik. Sains di kota ini tidak lagi dianggap sihir, namun sebagai alat baru untuk merebut kembali kekuasaan yang dirampas oleh Turki. Pada akhirnya, pengaruh seni di kota Firenze menyebar ke seluruh Eropa hingga Eropa Timur.

6.      Sejarah Seni Lukis di Indonesia
Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia.Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini. Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisa mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktekkan pelukis Belanda.
Raden Saleh kemudian melanjutkan belajar melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang pelukis Indonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa. Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman renaisans Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama. Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah "kerakyatan". Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu. Selain itu, alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi.
Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950an lebih memilih membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai.Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda.Perjalanan seni lukis Indonesia sejak perintisan R. Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi.
Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif atau seni kontemporer, dengan munculnya seni konsep (conceptual art): “Installation Art”, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.

7.      Aliran-Aliran Seni Lukis
a)      Aliran Neo-Klasik
Pecahnya revolusi Perancis pada tahun 1789, merupakan titik akhir dari kekuasaan feodalisme di Perancis yang pengaruhnya terasa juga ke bagian-bagian dunia lainnya. Revolusi ini tidak hanya perubahan tata politik dan tata social, tetapi juga menyangkut kehidupan seni. Para seniman menjadi bebas dalam memperturutkan panggilan hati masing-masing, dimana mereka berkarya bukan karena adanya pesanan, melainkan semata-mata ingin melukis saja.
Maka dengan demikian mulailah riwayat seni lukis modern dalam sejarah yang ditandai dengan individualisasi dan isolasi diri. Jacques Louis David adalah pelukis pertama dalam babakan modern. Pada tahun 1784, David melukiskan “SUMPAH HORATII”. Lukisan ini menggambarkan Horatius, bapak yang berdiri di tengah ruangan sedang mengangkat sumpah tiga anak laki-lakinya yang bergerombol di kiri, sementara anak perempuannya menangis di sebelah kanan.
Lukisan ini tidak digunakan untuk kenikmatan, melainkan untuk mendidik, menanamkan kesadaran anggota masyarakat atas tanggung jawabnya terhadap Negara. J.L. David merupakan pelopor aliran Neo-Klasik, dimana lukisan Neo-Klasik bersifat Rasional, objektif, penuh dengan disiplin dan beraturan serta bersifat klasik.
Ø  Ciri-cirinya Lukisan Neo-Klasik :
a.       Lukisan terikat pada norma-norma intelektual akademis.
b.      Bentuk selalu seimbang dan harmonis.
c.       Batasan-batasan warna bersifat bersih dan statis.
d.      Raut muka tenang dan berkesan agung.
e.       Berisi cerita lingkungan istana.
f.       Cenderung dilebih-lebihkan. Tokoh penerus J.L. David dalam Neo-Klasik adalahJEAN AUGUAST DOMINIQUE INGRES (1780-1867).
b)      Aliran Romantik
Aliran Romantik merupakan pemberontakan terhadap aliran Neo-Klasik, dimana Jean Jacques Rousseau mengajak kembali pada alam, sebagai manusia yang tidak hanya memiliki pikiran tetapi juga memiliki perasaan dan emosi. 
Lukisan-lukisan romantik cenderung menampilkan :
ü  Hal yang berurusan dengan perasaan seseorang (sangat ditentang dalam aliran Neo- Klasik).
ü  Eksotik, kerinduan pada masa lalu.
ü  Digunakan untuk perasaan dari penontonnya.
ü  Kecantikan dan ketampanan selalu dilukiskan.
Ciri-ciri aliran Romantis sebagai berikut :
ü  Lukisan mengandung cerita yang dahsyat dan emosional.
ü  Penuh gerak dan dinamis.
ü  Warna bersifat kontras dan meriah.
ü  Pengaturan komposisi dinamis.
ü  Mengandung kegetiran dan menyentuh perasaan.
ü  Kedahsyatan melebihi kenyataan.
Tokoh-tokhnya antara lain:
a)      Eugene Delacroix
b)      Theodore Gericault
c)      Jean Baptiste
d)     Jean Francois Millet
Tokoh yang betul-betul pemberontak dan pertama kali menancapkan panji-panji romantisme adalah Teodore Gericault (1791-1824) dengan karyanya yang berjudul “RAKIT MENDUSA”. Romantisme berasal dari bahasa Perancis “Roman” (cerita), sehingga aliran ini selalu melukiskan sebuah cerita tentang perbuatan besar atau tragedy yang dahsyat.
c)      Aliran Realisme
Realisme merupakan aliran yang memandang dunia tanpa ilusi, mereka menggunakan penghayatan untuk menemukan dunia. Salah seorang tokoh Realisme yang bernama “Courbet” dari Perancis mengatakan:
“TUNJUKANLAH KEPADAKU MALAIKAT, MAKA AKU AKAN MELUKISNYA, artinya ia tidak akan melukis sesuatu yang tidak ditunjukkan kepadanya (sesuatu yang tidak real/nyata). Aliran Realisme selalu melukiskan apa saja yang dijumpainya tanpa pandang bulu dan tanpa ada idealisasi, distorsi atau pengolahan-pengolahan lainnya. Gustave Courbet (1819-1877) memandang bahwa lukisan itu pada dasarnya seni yang kongkrit.Lukisan-lukisan Courbet selalu menampilkan kenyataan hidup yang pahit seperti “Lukisan Pemecah Batu” dll. 
Tokoh: Jean Francois, Millet dan Honore Daumier.
d)      Aliran Naturalisme
Aliran Naturalisme adalah aliran yang mencintai dan memuja alam dengan segenap isinya.Penganut aliran ini berusaha untuk melukiskan keadaan alam, khususnya dari aspek yang menarik, sehingga lukisan Naturalisme selalu bertemakan keindahan alam dan isinya.Monet merupakan salah satu tokoh pelukis Naturalisme, tetapi terkadang lukisannya mendekati Realisme.Meskipun lukisan Naturalistiknya Monet yang mendekati Realisme, tetapi sangat berbeda dengan lukisan Gustave Courbert sebagai tokoh realisme.
Realismenya Courbert bersifat sosialistik yang moralitasnya cukup tinggi, sedangkan realismenya Monet cenderung melukiskan yang indah-indah dan amoral, karena prinsip Monet adalah “seni untuk kepentingan seni, bukan untuk apapun.Para pelukis Naturalisme sering dijuluki sebagai pelukis pemandangan.Tokoh Naturalisme yang berasal dari Inggris adalah Thomas Gainsbrough (1727-1788).
Tokohnya antara lain John Constable, William Hogart, Frans Hall.
e)       Aliran Impresionis
Apabila ada orang mendengar istilah Impresionisme, maka asosiasi mereka biasanya tertuju pada lukisan-lukisan yang impresif, yaitu lukisan yang agak kabur dan tidak mendetail. Claud Monet bukan tokoh impresionisme, tetapi aliran impresionisme banyak diilhami oleh penemuan-penemuan Claud Monet dalam setiap lukisannya. Seorang tokoh impresionisme dari Prancis bernama Piere Auguste Renoir (1841-1919).
Pelukis ini sangat gemar melukis wanita, baik dalam kondisi berpakaian maupun tanpa busana. Lukisan impresionis sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, karena melukis dilakukan di luar studio. Lukisan impresionis biasanya tidak mempunyai kontur yang jelas dan nampak hanya efek-efek warna yang membentuk wujud tertentu.
Tokohnya: Eduard Manet, Claude Monet,Auguste Renoir, Edward Degas dan Mary Cassat.
f)        Aliran Ekspresionisme
Pada tahun 1990-an, para pelukis mulai tidak puas dengan karya yang hanya menonjolkan bentuk-bentuk objek. Mereka mulai menggali hal-hal yang berhubungan dengan batin, sehingga muncullah aliran ekspresionisme. Vincent Van Gogh (1850) adalah tokoh yang menjadi tonggak kemunculan aliran ekspresionisme dan tokoh lain yang mengikuti adalah Paul Cezanne, Paul Gauguin, Emil Nolde dan di Indonesia yaitu Affandi. Ekspresionisme merupakan aliran yang melukiskan aktualitas yang sudah didistorsikan ke arah suasana kesedihan, kekerasan ataupun tekanan batin.
Pelopornya adalah Vincent Van Gogh, Paul Klee, Emile Nolde, W .Kandinsky, dan Edvard Munch.
g)       Aliran Fauvisme
Nama fauvisme berasal dari bahas Prancis “Les Fauves”, yang artinya binatang liar.Aliran fauvisme sangat mengagungkan kebebasan berekspresi, sehingga banyak objek lukisan yang dibuat kontras dengan aslinya seperti pohon berwana 0ranye/jingga atau lainnya.Lukisan-lukisan fauvis betul-betul membebaskan diri dari batasan-batasan aliran sebelumnya.
Pelukis fauvisme cenderung melukis apa yang mereka sukai tanpa memikirkan isi dan arti dari sebuah lukisan yang dibuat. Maurice De Vlaminck, merupakan tokoh fauvisme yang banyak terinspirasi oleh goresan warna Vincent Van Gogh, sampai-sampai ia berkata; Saya lebih mencintai Van Gogh dari pada Ayah saya.
Tokoh-tokohnya Antara lain Henry Matisse, Andre Derain, Maurice de Vlaminc.
h)       Aliran Kubisme
Aliran kubisme dilatar belakangi oleh konsep Paul Cezanne yang mengatakan bahwa bentuk dasar dari segala bentuk adalah silinder, bola, balok dan semua bentuk yang ada di dalam di pengaruhi oleh perspektif, sehingga bidang tertuju pada satu titik tengah. Karya Picasso menjadi insfirasi kemunculan karya- karya kubisme, karena motif geometris digunakan oleh Picasso.
Lukisan kubisme mengedepankan bentuk-bentuk germetris. Tokoh kubisme yang sangat terkenal adalah Picasso dan Paul Cezanne, tetapi di samping kedua tokoh ini masih banyak tokoh lain yg menganut Kubisme seperti Juan Gris dll.
i)         Aliran Abstraksionisme
Aliran Abstraksionime adalah aliran yg berusaha melepaskan diri dari sensasi-sensasi atau asosiasis figuratif suatu obyek.Aliran Abstraksionis di bedakan menjadi dua, yaitu:
Ø  Abstrak kubistis, yaitu abstrak dalam bentuk geometrik murni seperti lingkaran kubus dan segi tiga. Tokoh aliraran ini berasal dari Rusia yaitu Malivich [1913].
Ø  Abstrak Nonfiguratif, yaitu abstrak dalam arti seni lukis haruslah murni sebagai ugkapan perasaan, di mana garis mewakili garis, warna mewakili warna dan sebagainya. Bentuk alami ditinggalkan sama sekali. Tokohnya adalah Wassily kadinsky, Naum Goba.
j)         Aliran Futuris
Aliran Futuris muncul di Itali pada tahun 1909, sebagai reaksi terhadap aliran kubisme yang dianggap dinamis penuh gerak, karena itu temanya cenderung menggambarkan kesibukan-kesibukan seperti, pesta arak-arakan, perang dll. Tokoh aliran ini antara lain Carlo Carra, Buido Severini, Umbirto Boccioni dan F.T Marineti.
k)       Aliran Dadaisme
Aliran dadaisme merupakan pemberontak konsep dari konsep aliran sebelumnya. Aliran ini mepunyai sikap memerdekakan diri dari hukum-hukum seni yang telah berlaku. Ciri aliran ini sinis, nihil dan berusaha meleyapkan ilusi. Aliran ini dilatar belakangi oleh perang dunia pertama yang tak kunjung berhenti.
Perang yang tak kunjung padam memberi kesan hilangnya nilai sosial dari nilai estetika di muka bumi, sehinga pandangan dadaisme tidak ada estetika dalam karya seni. Tokoh Dadisme adalah Paul klee, Scwitters Tritan Tzara, Maron Janco dll.

Pages

 

MBAK EKA IDRIS 1922 Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos