MEMAAFKAN
KESALAHAN DAN MENGUBUR DENDAM
Oleh: Al-Ustadz
Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.
Waktu terus berputar dan beragam peristiwa ikut mengiringi
derap langkah kehidupan manusia. Adalah kenyataan bahwa problematika hidup
bermasyarakat sangatlah kompleks. Yang demikian itu karena masyarakat berikut
seluruh lapisannya memiliki karakter dan kepribadian yang tidak sama.
Demikian pula tingkat pemahaman tentang agama dan kesiapan
untuk menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari pun sangat beragam. Oleh sebab
itu, masing-masing individu hendaknya memiliki kesiapan jiwa yang bisa menjadi
bekal menghadapi keadaan apapun dengan tepat. Di antaranya adalah sikap tabah
dan lapang dada yang didukung oleh ilmu syariat. Bisa dikatakan, secara umum orang itu siap untuk dipuji dan
diberi, namun sangat berat jika dicela dan dinodai. Di sinilah ujian,
apakah seseorang mampu menguasai dirinya saat pribadinya disinggung dan haknya
ditelikung. Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa ta'ala memuji orang-orang yang
mampu menahan amarahnya seperti firman-Nya: “Dan orang-orang yang
menahan amarahnya.” (Ali ’Imran: 134).
Demikian pula Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam telah
menegaskan bahwa orang yang mampu menahan dirinya di saat marah dia sejatinya
orang yang kuat. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيْدُ باِلصُّرْعَةِ
إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang
yang kuat bukan yang banyak mengalahkan orang dengan kekuatannya. Orang yang
kuat hanyalah yang mampu menahan dirinya di saat marah.” (HR. Al-Bukhari no. 6114).
1.
Memaafkan
Adalah amalan yang sangat mulia ketika seseorang mampu
bersabar terhadap gangguan yang ditimpakan orang kepadanya serta memaafkan
kesalahan orang padahal ia mampu untuk membalasnya. Gangguan itu bermacam-macam
bentuknya. Adakalanya berupa cercaan, pukulan, perampasan hak, dan semisalnya.
Memang sebuah kewajaran bila seseorang menuntut haknya dan membalas orang yang
menyakitinya. Dan dibolehkan seseorang membalas kejelekan orang lain dengan
yang semisalnya. Namun alangkah mulia dan baik akibatnya bila dia memaafkannya.
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
“Dan balasan suatu kejahatan adalah
kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya
atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang
zalim.” (Asy-Syura:
40).
Ayat ini menyebutkan bahwa tingkat pembalasan ada tiga:
1)
Pertama:
Adil, yaitu membalas kejelekan dengan kejelekan serupa, tanpa menambahi atau
mengurangi. Misalnya jiwa dibalas dengan jiwa, anggota tubuh dengan anggota
tubuh yang sepadan, dan harta diganti dengan yang sebanding.
2)
Kedua:
Kemuliaan, yaitu memaafkan orang yang berbuat jelek kepadanya bila dirasa ada
perbaikan bagi orang yang berbuat jelek. Ditekankan dalam pemaafan, adanya
perbaikan dan membuahkan maslahat yang besar. Bila seorang tidak pantas untuk
dimaafkan dan maslahat yang sesuai syariat menuntut untuk dihukum, maka dalam
kondisi seperti ini tidak dianjurkan untuk dimaafkan.
3)
Ketiga:
Zalim yaitu berbuat jahat kepada orang dan membalas orang yang berbuat jahat
dengan pembalasan yang melebihi kejahatannya. (Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman
hal. 760, cet. Ar-Risalah)
2.
Kedudukan
yang mulia
Memaafkan kesalahan orang acapkali dianggap sebagai sikap
lemah dan bentuk kehinaan, padahal justru sebaliknya. Bila orang membalas
kejahatan yang dilakukan seseorang kepadanya, maka sejatinya di mata manusia
tidak ada keutamaannya. Tapi di kala dia memaafkan padahal mampu untuk
membalasnya, maka dia mulia di hadapan Allah Subhanahu wa ta'ala dan manusia.
Berikut beberapa kemuliaan dari memaafkan kesalahan.
3.
Mendatangkan
kecintaan
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat Fushshilat
ayat 34-35: “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang
antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang
sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan
kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada
orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34-35).
Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan: “Bila kamu berbuat
baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu maka kebaikan ini akan menggiring
orang yang berlaku jahat tadi merapat denganmu, mencintaimu, dan condong
kepadamu sehingga dia (akhirnya) menjadi temanmu yang dekat. Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu 'anhuma mengatakan: ‘Allah Subhanahu wa ta'ala memerintahkan orang
beriman untuk bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan
memaafkan di saat diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini maka Allah Subhanahu
wa ta'ala menjaga mereka dari (tipu daya) setan dan musuh pun tunduk kepadanya
sehingga menjadi teman yang dekat’.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 4/109).
4.
Mendapat
pembelaan dari Allah Ta'ala
Al-Imam Muslim meriwayatkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu'anhu
bahwa ada seorang laki-laki berkata: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku punya
kerabat. Aku berusaha menyambungnya namun mereka memutuskan hubungan denganku.
Aku berbuat kebaikan kepada mereka namun mereka berbuat jelek. Aku bersabar dari
mereka namun mereka berbuat kebodohan terhadapku.” Maka Rasulullah
Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ
فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ
عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Jika benar yang kamu ucapkan maka
seolah-olah kamu menebarkan abu panas kepada mereka. Dan kamu senantiasa
mendapat penolong dari Allah atas mereka selama kamu di atas hal itu.” (HR. Muslim).
5.
Memperoleh
ampunan dan kecintaan dari Allah
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: “Dan jika kamu
memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah
Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (At-Taghabun: 14).
Adalah Abu Bakr radhiyallahu'anhu dahulu biasa memberikan
nafkah kepada orang-orang yang tidak mampu, di antaranya Misthah bin Utsatsah.
Dia termasuk famili Abu Bakr dan muhajirin. Di saat tersebar berita dusta
seputar ‘Aisyah binti Abi Bakr istri Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam, Misthah
termasuk salah seorang yang menyebarkannya. Kemudian Allah l menurunkan ayat
menjelaskan kesucian ‘Aisyah dari tuduhan kekejian. Misthah pun dihukum dera
dan Allah Subhanahu wa ta'ala memberi taubat kepadanya. Setelah peristiwa itu,
Abu Bakr radhiyallahu'anhu bersumpah untuk memutuskan nafkah dan pemberian
kepadanya. Maka Allah Subhanahu wa ta'ala menurunkan firman-Nya:
“Dan janganlah orang-orang yang
mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka
(tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang
miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka
memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?
Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (An-Nur: 22).
Abu Bakr z mengatakan: “Betul, demi Allah. Aku ingin agar
Allah mengampuniku.” Lantas Abu Bakr radhiyallahu'anhu kembali memberikan
nafkah kepada Misthah. (lihat Shahih Al-Bukhari no. 4750 dan Tafsir Ibnu Katsir
3/286-287).
Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: “Sayangilah
–makhluk– maka kamu akan disayangi Allah, dan berilah ampunan niscaya Allah
mengampunimu.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 293).
Al-Munawi rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa ta'ala
mencintai nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yang di antaranya adalah (sifat)
rahmah dan pemaaf. Allah juga mencintai makhluk-Nya yang memiliki sifat tersebut.”
(Faidhul Qadir 1/607).
Adapun Allah Subhanahu wa ta'ala mencintai orang yang
memaafkan, karena memberi maaf termasuk berbuat baik kepada manusia. Sedangkan
Allah Subhanahu wa ta'ala cinta kepada orang yang berbuat baik, sebagaimana
firman-Nya:.
“Dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan.”
(Ali ‘Imran: 134).
6.
Mulia
di sisi Allah maupun di sisi manusia
Suatu hal yang telah diketahui bahwa orang yang memaafkan
kesalahan orang lain, disamping tinggi kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa
ta'ala, ia juga mulia di mata manusia. Demikian pula ia akan mendapat pembelaan
dari orang lain atas lawannya, dan tidak sedikit musuhnya berubah menjadi
kawan. Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ
إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ
“Shadaqah –hakikatnya– tidaklah
mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah seorang hamba karena memaafkan
kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah
melainkan diangkat oleh Allah.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z).
7.
Kapan
memaafkan itu terpuji?
Seseorang yang disakiti oleh orang lain dan bersabar atasnya
serta memaafkannya padahal dia mampu membalasnya maka sikap seperti ini sangat
terpuji. Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa
menahan amarahnya padahal dia mampu untuk melakukan –pembalasan– maka Allah
akan memanggilnya di hari kiamat di hadapan para makhluk sehingga memberikan
pilihan kepadanya, bidadari mana yang ia inginkan.” (Hadits ini dihasankan
oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3394).
Demikian pula pemaafan terpuji bila kesalahan itu berkaitan
dengan hak pribadi dan tidak berkaitan dengan hak Allah Subhanahu wa ta'ala.
‘Aisyah radhiyallahu'anha berkata: “Tidaklah Rasulullah Shallallahu'alaihi
wa sallam membalas atau menghukum karena dirinya (disakiti) sedikit pun,
kecuali bila kehormatan Allah dilukai. Maka beliau menghukum dengan sebab itu
karena Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, tidaklah beliau disakiti pribadinya oleh
orang-orang Badui yang kaku perangainya, atau orang-orang yang lemah imannya,
atau bahkan dari musuhnya, kecuali beliau memaafkan. Ada orang yang menarik
baju Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dengan keras hingga membekas pada
pundaknya. Ada yang menuduh Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam tidak adil dalam
pembagian harta rampasan perang. Ada pula yang hendak membunuh Nabi
Shallallahu'alaihi wa sallam namun gagal karena pedang terjatuh dari tangannya.
Mereka dan yang berbuat serupa dimaafkan oleh Nabi Shallallahu'alaihi
wa sallam. Ini semua selama bentuk menyakitinya bukan melukai kehormatan Allah
Subhanahu wa ta'ala dan permusuhan terhadap syariat-Nya. Namun bila menyentuh
hak Allah dan agamanya, beliau pun marah dan menghukum karena Allah serta menjalankan
kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar. Oleh karena itu, beliau melaksanakan cambuk
terhadap orang yang menuduh istri beliau yang suci berbuat zina. Ketika
menaklukkan kota Makkah, beliau memvonis mati terhadap sekelompok orang musyrik
yang dahulu sangat menyakiti Nabi karena mereka banyak melukai kehormatan Allah
Subhanahu wa ta'ala. (disarikan dari Al-Adab An-Nabawi hal. 193 karya Muhammad
Al-Khauli).
Kemudian, pemaafan dikatakan terpuji bila muncul darinya
akibat yang baik, karena ada pemaafan yang tidak menghasilkan perbaikan.
Misalnya, ada seorang yang terkenal jahat dan suka membuat kerusakan di mana
dia berbuat jahat kepada anda. Bila anda maafkan, dia akan terus berada di atas
kejahatannya. Dalam keadaan seperti ini, yang utama tidak memaafkan dan menghukumnya
sesuai kejahatannya sehingga dengan ini muncul kebaikan, yaitu efek jera.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan: “Melakukan perbaikan
adalah wajib, sedangkan memaafkan adalah sunnah. Bila pemaafan mengakibatkan
hilangnya perbaikan berarti mendahulukan yang sunnah atas yang wajib. Tentunya
syariat ini tidak datang membawa hal yang seperti ini.” (lihat Makarimul Akhlaq
karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 20).
8.
Faedah
Ada masalah yang banyak dilakukan orang dengan tujuan
berbuat baik, misalnya kala seseorang mengemudikan kendaraannya lalu menabrak
seseorang hingga meninggal. Kemudian keluarga korban datang dan menggugurkan
diyat (tebusan) dari pelaku kecelakaan. Apakah perbuatan mereka menggugurkan
tebusan termasuk perkara terpuji, atau dalam hal ini perlu ada perincian?
Dalam masalah ini, yang benar ada perincian, yaitu melihat
kondisi orang yang menabrak. Apakah dia termasuk orang yang ugal-ugalan dan
tidak peduli siapa pun yang dia tabrak? Bila seperti ini, yang utama adalah
tidak dimaafkan agar memunculkan efek jera. Juga agar manusia selamat dari
kejahatannya. Tetapi bila yang menabrak orangnya baik dan sudah berhati-hati
serta mengemudikan kendaraannya dengan stabil, maka di sini pun ada perincian:
1)
Bila
si korban punya utang yang tidak bisa dibayar kecuali dengan uang tebusan maka
bagi ahli waris tidak ada hak untuk menggugurkan tebusan.
2)
Bila
si korban tidak punya utang namun dia punya anak-anak yang masih kecil dan
belum mampu usaha, maka tidak ada hak bagi ahli waris untuk memaafkan pelaku.
Bila dua
keadaan ini tidak ada, maka memaafkan lebih utama. (disarikan dari Kitabul
‘Ilmi hal. 188-189 karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin
rahimahullah).
9.
Manusia-manusia
pilihan
Orang yang mulia selalu menghiasi dirinya dengan kemuliaan
dan selalu berusaha agar dalam hatinya tidak bersemayam sifat-sifat kejelekan.
Para Nabi Allah merupakan teladan dalam hal memaafkan kesalahan orang. Misalnya
adalah Nabi Yusuf 'Alaihissalam. Beliau telah disakiti oleh saudara-saudaranya
sendiri dengan dilemparkan ke dalam sumur, lantas dijual kepada kafilah dagang
sehingga berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan menanggung
penderitaan yang tiada taranya. Namun Allah Subhanahu wa ta'ala berkehendak
memuliakan hamba-Nya melalui ujian ini. Allah pun mengangkat kedudukan Nabi
Yusuf 'Alaihissalam sehingga menjadi bendahara negara di Mesir kala itu. Semua
orang membutuhkannya, tidak terkecuali saudara-saudaranya yang dahulu pernah
menyakitinya. Tatkala mereka datang ke Mesir untuk membeli kebutuhan pokok
mereka, betapa terkejutnya saudara-saudara Nabi Yusuf ketika tahu bahwa Nabi
Yusuf 'Alaihissalam telah diangkat kedudukannya sebegitu mulianya. Mereka pun
meminta maaf atas kesalahan mereka selama ini. Nabi Yusuf 'Alaihissalam
memaafkannya dan tidak membalas. Beliau mengatakan:
“Pada hari ini tak ada cercaan
terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni (kalian), dan Dia adalah Maha
penyayang di antara para Penyayang.” (Yusuf: 92).
Demikian pula Nabi Musa dan Nabi Khidhir, ketika keduanya
melakukan perjalanan dan telah sampai pada penduduk suatu negeri. Keduanya
meminta untuk dijamu oleh penduduk negeri itu karena mereka adalah tamu yang
punya hak untuk dijamu. Namun penduduk negeri itu tidak mau menjamu. Ketika
keduanya berjalan di negeri itu, didapatkannya dinding rumah yang hampir roboh,
maka Nabi Khidhir 'Alaihissalam menegakkan dinding tersebut.
Adapun Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam, beliau
adalah manusia yang terdepan dalam segala kebaikan. Pada suatu ketika ada
seorang wanita Yahudi memberi hadiah kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam
berupa daging kambing. Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam tidak tahu ternyata
daging itu telah diberi racun. Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam pun
memakannya. Setelah itu Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam diberi tahu bahwa
daging itu ada racunnya. Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam berbekam dan dengan
seizin Allah Subhanahu wa ta'ala beliau tidak meninggal. Wanita tadi dipanggil
dan ditanya maksud tujuannya. Ternyata dia ingin membunuh Nabi
Shallallahu'alaihi wa sallam. Maka Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam memaafkan
dan tidak menghukumnya. (Bisa dilihat di Shahih Al-Bukhari no. 2617 dan Zadul
Ma’ad 3/298).
DAFTAR PUSTAKA
Aidh al-Qarni, (2004), La Tahzan, Jangan Bersedih (hal.
93-94), diterjemahkan oleh: Samson Rahman. Jakarta: Qisthi Press.
Sumber: Majalah AsySyariah
Edisi 053, Memaafkan Kesalahan Dan
Mengubur Dendam. [Online].
Tersedia: http://asysyariah.com/memaafkan-kesalahan-dan-mengubur-dendam.html. [diakses Mei
2004].
0 komentar:
Posting Komentar